Posted by: indahbaroroh | April 17, 2008

Marhalah Madaniyah

A. Ringkasan Sejarah Dakwah di Madinah  Membangun Madinah

Setelah tiba di Madinah Nabi mulai meletakkan dasar-dasar pembangunan masyarakat Madinah. Disebutkan oleh Muhammad Al-Ghazaly dalam Fiqhus Sirah, ada 3 hal yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW dalam rangka penegakan daulah Islamiyah:
1. Memperkokoh hubungan umat Islam dengan Allah, hal ini ditandai dengan membangun masjid sebagai pusat peribadatan dan penggemblengan ruhani.

2. Memperkokoh hubungan intern ummat Islam, yakni dengan mempersaudarakan  Muhajirin dan Anshar. Dengan ini jama’ah muslimin semakin solid dan kuat. 

3. Mengatur hubungan umat Islam dengan non muslim. Untuk itu Rasulullah SAW melakukan penandatanganan Piagam Madinah (sulhul Madinah), berisi kesepakatan untuk hidup berdampingan secara damai antara umat Islam dengan kaum Yahudi serta musyrikin  dengan hak dan kewajiban yang sama.

Dengan 3 pilar tersebut kedudukan kaum muslimin semakin mantap. Hal lain yang perlu dicatat adalah Rasulullah SAW mendirikan pasar Madinah sebagai pembangunan basis perekonomian. Selain itu, guna menjaga keamanan daulah Islamiyah, Rasulullah mengirim sariyyah dengan tugas patroli mengawasi lalu lintas kafilah yang bergerak  dari Mekkah ke Syam dan sebaliknya. Hal ini menurut Muhammad Al-Ghazaly untuk memperlihatkan kekuatan kaum muslimin dan memberi peringatan kepada musyrikin Quraisy.

Perang Badar
Tersiar kabar bahwa sebuah kafilah raksasa kaum musyrikin berangkat meninggalkan Syam. Rasulullah kemudian diikuti sahabat-sahabatnya bermaksud menghadang kafilah tersebut untuk memberikan pukulan telak kepada penduduk Mekkah. Akan tetapi kafilah Abu Sufyan berhasil menyelamatkan diri, dan Allah memiliki rencana lain: Perang Badar! Perang ini menjadi shiraaul wujud  (pertempuran eksistensi) bagi kaum muslimin. Kaum musyrikin Quraisy kalah telak, maka eksistensi kaum muslimin semakin diperhitungkan masyarakat Arab pada saat itu

Pengusiran Bani Qunaiqa
Pada tahun ke 2 hijrah tepatnya bulan Syawal, Yahudi Bani Qunaiqa mulai berulah, terjadi insiden pelecehan kepada seorang muslimah yang menimbulkan keributan dan terbunuhnya seorang muslim. Berawal dari peristiwa inilah terjadilah ketegangan antara kaum Muslimin dengan kaum Yahudi. Setelah dikepung selama 15 hari akhirnya mereka pergi ke Adzraat di daerah Syam.

Perang Uhud
Setelah kekalahan di Badr kaum musyrikin bermaksud melakukan balas dendam. Maka pada pertengahan Syawal tahun ke 3 hijrah mereka bergerak mendekati Madinah. Terjadilah perang Uhud. Pada perang ini kaum muslimin sempat berhasil memukul mundur orang-orang Quraisy, akan tetapi keadaan berbalik setelah beberapa orang pasukan muslimin tidak menjalankan komando Nabi.

 

Pengusiran Bani Nadzir
‘Kekalahan’ muslimin di Uhud memunculkan keberanian kelompok-kelompok yang dengki kepada kaum muslimin (Arab Badui dan Yahudi), pada tahun 4 hijriyah Bani Asad mencoba menyerang Madinah, akan tetapi berhasil dipatahkan oleh kaum muslimin di bawah pimpinan Abu Salmah. Beberapa saat setelah itu Bani Hudzail pun melakukan hal yang sama. Begitu pula Yahudi Bani Nadzir mulai berulah (merencanakan pembunuhan Nabi) sampai akhirnya diusir dari Madinah.

Perang Khandaq
Setelah beberapa kali terjadi operasi militer untuk menjaga keamanan Madinah akhirnya terjadilah perang Ahzab (Khandaq), dimana Yahudi Bani Quraidhah, Arab Badui dimotori Bani Ghatafan dan musyrikin Quraisy bersatu padu hendak menyerang Madinah. Akan tetapi rencana busuk mereka itu digagalkan Allah SWT. Allah menimpakan kesulitan dan perpecahan di antara mereka.

Perjanjian Hudaibiyyah
Pada bulan Dzulqa’dah tahun ke 6 hijriyah Rasulullah pergi menuju Makkah untuk melaksanakan umrah. Akan tetapi dihalang-halangi kaum Musyrikin. Kemudian  dilakukan negosiasi. Juru runding dari kaum muslimin adalah Utsman bin Affan. Sempat terjadi peristiwa bai’aturidwan menyusul kabar terbunuhnya Utsman. Tapi tenyata Utsman hanya sempat tertahan saja.

Kaum Quraisy kemudian mengutus Suhail bin Amr untuk melakukan perjanjian dengan Rasulullah, yang kemudian dikenal dengan perjanjian Hudaibiyyah. Isi perjanjian tersebut adalah tentang kesepakatan gencatan senjata selama 10 tahun dan harus batalnya maksud kaum muslimin berumrah ke Makkah tahun ini. Perjanjian ini menimbulkan tanda tanya mayoritas para sahabat.

Tapi sebenarnya, perjanjian Hudaibiyah ini adalah kemenangan gemilang. Karenan langkah politis Nabi ini semakin memacu percepatan dakwah Islam. Jumlah kaum muslimin pasca perjanjian ini melonjak tajam. Sebagai gambaran tentang ini Ibnu Hisyam menyebutkan ungkapan Az-Zuhri bahwa pada saat keberangkatan ke Hudaibiyyah Rasulullah hanya diikuti sekitar 1400 orang. Tapi 2 tahun kemudian pada peristiwa futuh Makkah Nabi diikuti sekitar 10.000 orang. 

Runtuhnya Khaibar

Pada masa-masa ini terjadi ketegangan dengan orang-orang Yahudi yang merasa tidak tenang melihat pertumbuhan kekuatan kaum muslimin. Mereka bersama Bani Ghathafan berencana melancarkan tindakan subversive. Maka sekembalinya dari Hudaibiyyah, kaum muslimin segera menuju Khaibar pada 7 hijriyah. Khaibar pun akhirnya dapat dikuasai kaum muslimin. Inilah benteng terakhir orang-orang Yahudi di Madinah. Bertepatan runtuhnya Khaibar, kaum Muhajirin dari Habasyah pulang.

Pelebaran Sayap Dakwah
Kekuatan kaum muslimin terus berkembang, dakwah Islam semakin gencar dilakukan. Rasulullah mulai memperkenalkan Islam ke luar negeri melalui surat-surat dakwahnya, diantaranya beliau mengirim surat kepada Kisra (Raja Persia), Kaisar Romawi, Najasyi raja Habasyah, dll.

Mudzaharah
Menjelang akhir tahun 7 hijriyah kaum muslimin melakukan umrah sesuai perjanjian Hudaibiyah. Disini kaum muslimin melakukan mudzaharah, show of force untuk memperlihatkan kekuatan kaum muslimin.

Perang Mut’ah
Hubail bin Amr, utusan Nabi ke penguasa Bashra dibunuh, peristiwa ini mencetuskan Perang Mut’ah. Dalam perang ini 3000 pasukan kaum muslimin  berhadapan dengan 200.000 orang pasukan Romawi dan Nasrani Arab. Perang berakhir seri, tidak ada yang menang maupun yang kalah.

Futuh Makkah
Berawal penyerangan terhadap Bani Khuza’ah (sekutu kaum muslimin), terjadilah peristiwa Futuh Makkah. Bersama 10.000 pasukan, Rasulullah memasuki Makkah dan menguasainya. Berhala-berhala dihancurkan. Pada hari itu semua penduduk Mekkah memeluk Islam.

Perang Hunain
Kabilah Hawazin dan Kabilah Tsaqif menyerang kaum muslimin, maka terjadilah Perang Hunain. Bani Hawazin menyerah sedangkan Bani Tsaqif melarikan diri dan berlindung di benteng-benteng, beberapa bulan kemudian mereka menyatakan diri masuk Islam.

Perang Tabuk
Terdengar kabar bahwa Romawi berencana menyerang Madinah, maka Rasulullah segera memobilisasi pasukan untuk mencegah niat busuk mereka. Kaum muslimin keluar dari Madinah menuju ke Tabuk dalam suasana musim panas. Mereka menempuh perjalanan panjang sejauh 800 km dari Madinah. Tapi ternyata orang-orang Romawi mengurungkan niatnya.

Eksistensi dakwah Islam terus menguat, orang–orang berdatangan ingin mendengar dakwah ini, diantaranya adalah datangnya utusan Nasrani Najran, dan akhirnya menyatakan takluk kepada daulah Islam dan bersedia membayar jizyah.

Haji Wada
Tahun ke 10 hijriyah Rasulullah melakukan Haji wada. Sepulang dari Makkah Nabi berencana melakukan penyerangan kepada Romawi karena telah membunuh Farwah bin Umar Al-Judzami, seorang kepala daerah Romawi yang masuk Islam. Akan tetapi hari-hari terakhir bulan Shafar tahun 11 Hijriyah, Rasulullah mulai menderita sakit. Akhirnya pada usia 63 tahun Rasulullah wafat.

B. Kesimpulan
            Marhalah Madaniyah adalah Marhalah pengokohan dakwah (tamkinu da’wah). Karakteristik yang menonjol pada fase dakwah ini adalah adanya:

1.           Al-Qa’idatu al-ijtima’iyyah, pembentukan dan pemantapan kaidah-kaidah kemasyarakatan.

2.           Al-Qa’idatu al-ardhiyyah, penentuan tegaknya teritorial yang kuat dan berwibawa.

3.           Al-Quwwatul qudratu ‘alal hamiyah, memperkuat kemampuan pertahanan, perlindungan dan pengayoman masyarakat untuk memelihara kemashlahatan orang banyak.

4.           Tandzimu daulah, penataan pilar-pilar negara yang kokoh.

5.           Ad-Da’watu syamilah, menyebarkan nilai-nilai secara sempurna dengan pla komunikasi dan publikasi.

Posted by: indahbaroroh | April 15, 2008

Inti Semua Kebijaksanaan.

                            
                           
Konon, ada seorang raja muda yang pandai. Ia memerintahkan
semua mahaguru terkemuka dalam kerajaannya untuk berkumpul
dan menulis semua kebijaksanaan dunia ini. Mereka segera
mengerjakannya dan empat puluh tahun kemudian, mereka telah
menghasilkan ribuan buku berisi kebijaksanaan. Raja itu,
yang pada saat itu telah mencapai usia enam puluh tahun,
berkata kepada mereka, “Saya tidak mungkin dapat membaca
ribuan buku. Ringkaslah dasar-dasar semua kebijaksanaan itu.”
                                               
Setelah sepuluh tahun bekerja, para mahaguru itu berhasil
meringkas seluruh kebijaksanaan dunia dalam seratus jilid.
“Itu masih terlalu banyak,” kata sang raja. “Saya telah
berusia tujuh puluh tahun. Peraslah semua kebijaksanaan
itu ke dalam inti yang paling dasariah.

Maka orang-orang bijak itu mencoba lagi dan memeras semua
kebijaksanaan di dunia ini ke dalam hanya satu buku. Tapi
pada waktu itu raja berbaring di tempat tidur kematiannya.
Maka pemimpin kelompok mahaguru itu memeras lagi kebijak-
sanaan-kebijaksanaan itu ke dalam hanya satu pernyataan,
“Manusia hidup, lalu menderita, kemudian mati. Satu-satunya
hal yang tetap bertahan adalah cinta.”

semester 8…

bener-bener kerasa, truz paling berkesan pula…

bayangin aja, seabrek amanah di semester ini mulai dari amanah akademis : nyelesain Tugas Akhir, truz nyelesain PKMK, truz nyelesaikan tugas kul “analisa input-output”, kerjaan di Lab…amanah non akademis di BEM ITS…amanah di rumah…trus amanah-amanah lain…

fiuhh…buanyak…

Semuanya punya Time Consuming yang banyak juga…Really make me take a deeeppp breath….!!!!

tapi klo semua dianggap beban … ntar capek sendiri jadinya…

semua amanah adalah sebuah ladang amal yang dititipin Allah SWT “All the Mighty” ke qta, kesempatan untuk mendapatkan amanah ini ga bakal terulang…so, Do Your Best…!!! To be, or not to be…?(kayak katanya kakek Shakespare)

To be, or not to be: that is the question:
Whether ’tis nobler in the mind to suffer 
The slings and arrows of outrageous fortune, 
Or to take arms against a sea of troubles, 

William Shakespeare, “Hamlet”

Posted by: indahbaroroh | April 10, 2008

Meretas Masa Depan bangsa….

Meretas Masa Depan Bangsa

Bangsa yang bersedih, mungkin adalah segurat kata yang cukup tepat untuk mengungkapkan begitu banyak permasalahan yang melanda bangsa ini. Puluhan bencana, musibah yang tak pernah surut melanda dan segala permasalahan sosial menyisakan puluhan pertanyaan, kapan semua ini akan berakhir. Tapi seperti apapun banyaknya pertanyaan yang meliputi benak kita toh jawaban tetap dipegang oleh Allah SWT dan sebagai manusia yang bisa kita lakukan adalah berusaha.
Perkembangan dunia yang begitu pesat menyisakan pertanyaan dihati ini akan jadi apa anak-anak kita di masa depan. Mampukah mereka menatap dunia suatu hari nanti, ditengah geliat globalisasi yang tak segan melindas semua orang yang tidak sanggup berlari dalam putaran kehidupan. Akan jadi apa mereka yang tak sanggup membayar untuk sebuah pendidikan berkualitas? Akan jadi apa mereka yang tidak cukup beruntung untuk bisa berada dalam rute persaingan?. Mereka yang selama ini hanya sanggup jadi penonton dalam deras kehidupan. Mereka yang tidak memiliki cukup kemampuan untuk bersekolah di tempat terbaik, mengikuti pelatihan berbiaya mahal, atau bahkan untuk sekedar mengakses sumber informasi. Mereka yang selama ini harus puas menyimpan keinginan.
Anak-anak itulah tanggung jawab kita bersama, kesejahteraan mereka, kehidupan mereka, hak mereka mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan bahkan hak mereka untuk bahagia adalah salah satu tanggung jawab yang tidak dapat kita tinggalkan dan lupakan begitu saja. Karena mereka adalah salah satu gambaran masa depan kita suatu saat ini. Memberikan mereka kesempatan adalah salah satu tanggung jawab kita. Mengajarkan sedikit ilmu yang bermanfaat yang dapat mereka gunakan untuk sekadar dapat bertahan hidup atau bahkan lebih baik lagi menjadi pemain dalam kehidupan ini.
Mungkin berpikir muluk untuk dapat menyediakan sebuah universitas sekelas Havard University di tangan mereka. Tapi setidaknya mengajarkan sedikit kemampuan pada mereka yang bisa membuat mereka mampu melihat masa depan adalah salah satu cara agar kita tidak perlu terlalu skeptis dan pesimis menghadapi kehidupan, ” Because life it’s to short to be a pesimist”.
Memberdayakan masyarakat sekitar di lingkungan kita untuk melatih mereka keterampilan sederhana seperti membuat kerajinan tangan dari barang-barang bekas yang tidak dimanfaatkan, memberdayakan ibu-ibu dirumah untuk menjadi ibu asuh yang mampu menjadi teladan, dan menyalurkan karya mereka atau menggunakan karya yang mereka buat untuk membuka pintu yang mungkin selama ini tertutup. Semua itu sederhana tapi berharga. Semua itu mudah tapi memiliki sebuah hasil yang besar.
Menggunakan sebuah tas sederhana buatan mereka mungkin terlihat simple hanya membutuhkan beberapa ribu, tapi beberapa ribu yang sampai ke tangan mereka lebih di butuhkan mereka, ketimbang mereka yang mendapatkan untung puluhan juta dari sebuah fancy clutch yang kita beli. Mungkin menyisihkan sedikit untuk mereka terlihat begitu murah, tapi percayalah dari yang sedikit itulah muncul begitu banyak hal. Kepercayaan diri mereka meningkat terhadap kemampuan mereka, mereka tahu nikmatnya bekerja, mereka tahu mereka berharga, dan bahkan dari yang sedikit dan sederhana itulah banyak kreasi besar tercipta.
Sedikit tapi berharga, berbuatlah sekarang juga sekecil apapun agar bangsa yang bersedih ini dapat bergembira dan kegembiraan itu bukan hanya sekedar mimpi belaka. Bergandeng tangan untuk memiliki kepedulian sosial, untuk peduli pada mereka. Life it’s to short to just be a dreammer.

Posted by: indahbaroroh | March 20, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories